Perempuan Dalam Cerita

Berbicara perempuan sepertinya tidak akan ada habisnya. Misalnya bicara jumlah, penduduk perempuan di Indonesia berjumlah 118.010.413 jiwa. Diambil dari data penduduk tahun 2012 lalu. Sementara julah penduduk laki-laki berjumlah 119.630.913 jiwa. Hanya berbeda sedikit bukan dengan perempuan. Berarti kiamat masih lama.

Kemarin adalah hari pertama ditayangkan film ‘Soekarno’, yang kebetulan saya menonton. Dalam film tersebut Soekarno dihadapkan oleh dua perempuan, yaitu Inggit dan Fatmawati. Inggit sendiri mempunyai nama lengkap yaitu Inggit Ganarsih. Lahir di Bandung pada 17 Februari 1888 dan meninggal pada usia 96 Tahun. Beliau menjadi istri kedua dari Soekarno.

Pada tahun 1923, Inggit resmi menikah dengan Soekarno. Tetapi pada tahun 1942, Inggit resmi bercerai dengan Soekarno. Selama menuju kemerdekaan, Inggit sangat setia kepada Soekarno. Bahkan ketika Soekarno dipenjarakan, Inggit rela membantu apa saja demi terbebasnya Soekarno. Ketika dibuang ke Bengkulu, Inggit menemani Soekarno. 

Sebelum dengan Inggit Ganarsih, Soekarno pernah menikah dengan Siti Oetari. Beliau putri sulung dari Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Utari saat menikah dengan Soekarno, sebenarnya masih dalam umur 16 tahun. Hanya saja tidak berlangsung lama pernikahan Utari dengan Soekarno. Ketika Soekarno melanjutkan Sekolah ke ITB, akhirnya Utari bercerai dengan Soekarno dengan baik-baik.

Sementara Fatmawati dengan nama asli Fatimah. Lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923 dan meninggal di Malaysia, 14 Mei 1980. Beliau menjadi istri ketiga dari Soekarno.  Beliau juga yang menjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Dari pernikahannya dengan Soekarno beliau dikarunia lima orang anak, Guntur Soekarnoputri, Megawati Soekarnoputri, Rahmawati Soekarnoputri, Sukamawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra. 

Dalam mendampingi Soekarno menuju kemerdekaan keduanya memiliki peran yang sangat penting. Untuk Inggit sendiri dalam film tersebut digambarkan sebagai perempuan yang tangguh dan mempunyai prinsip. Sementara Fatmawati digambarkan sebagai perempuan yang pintar dan lembut. 

Jika dikaitkan dengan gerakan feminisme, mereka itu sama-sama melakukan gerakan feminisme. Untuk aliran feminisme yang biasa dikenal, ada empat aliran feminisme, yaitu: 

  1. Feminisme Liberal, pandangan untuk menempatkan perempuan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan Individual. 
  2. Feminisme Radikal memiliki pandangan mengenai negara sebagai penguasa yang tidak memihak anatar kepentingan kelompok yang berbeda berasal dari teori pluralisme negara. 
  3. Feminisme Marxis, dimana perempuan lebih dipandang dari sudut teori kelas sebagai kelas masyarakat yang tertindas.
  4. Feminisme etnis, dimana hal ini lebih mengedepankan perseoalan perbedaan perlakuan perempuan terhadap kulit warnanya.


Bagi saya aliran feminisme khususnya di Indonesia berbeda dengan yang paparkan. Ada tiga aliran feminisme, yaitu 

  1. Feminisme Radikal, dimana peran perempuan lebih banyak melakukan peran sebagai laki-laki sehingga lupa sebagai peran dirinya sebagai perempuan. 
  2. Feminisme Sosial-Humanis, dimana peran perempuan bisa melaksanakan peran sebagai laki-laki, tetapi tidak melupakan peran dirinya sebagai perempuan. 
  3. Feminisme Tradisional, dimana perempuan hanya melaksanakan perannya sebagai perempuan. Menganggap ruang-ruang domestifik sebagai peran perempuan.  


Bagi saya, Inggit lebih kepada feminisme Sosial-Humanis. Karena pada saat menikah dengan Inggit Soekarno masih menjadi mahasiswa di ITB. Sehingga beliau menjual jamu untuk menghidupi kehidupannya. Sedikit uangnya dia tabungkan untuk keperluan lainnya, membantu Soekarno merebut kemerdekaan. Beliau juga sangat setia mendampingi Soekarno kemana pun dia pergi.

Sementara Fatmawati lebih kepada feminisme Tradisional. Sebenarnya disayangkan sekali karena beliau sangat pintar tetapi, hanya berkutat dalam ruang-ruang domestik. Memang, wanita pintar itu sangat diperlukan untuk mendidik anaknya, hanya saja dianggap kurang greget. Beliau tidak memiliki peran yang penting di luar.

Diantara dua perempuan ini, Inggit Ganarsih sangat menarik. Dia memiliki prinsip yang perlu dilanggar oleh siapapun. Sebenarnya ketika di Bengkulu, Inggit sudah merasakan bahwa Soekarno telah memiliki hati kepada Fatmawati. Hingga kembali ke Jawa Inggit masih merasakan ada yang berbeda pada suaminya. 

 Sementara Fatmawati dan Soekarno masih berkomunikasi. Sehingga hal ini membuat perasaan Fatmawati semakin besar kepada Soekarno. Melihat keadaan seperti ini, akhirnya Inggit lebih memilih bercerai dengan Soekarno. Inggit tidak mau dimadu oleh Soekarno. Hingga sampai meninggal pun Inggit masih menyisikan ruangan cintanya untuk Soekarno. 
Selain daripada dasar dari perempuan yang lembut, dari sosok Inggit Ganarsih sendiri memiliki ketangguhan dari seorang perempuan. Jika pada zamannya perempuan dianggap sebagai perempuan yang lemah, maka Inggit bukan perempuan yang lemah. 

Seharusnya perempuan Indonesia ini memiliki karakter seperti Inggit Ganarsih. Tidak mau dimadu atau dijadikan selingkuhan. Di Indonesia sendiri ketika menyeruaknya kasus korupsi, maka menyeruak juga perempuan-perempuan yang menjadi perempuan simpanan. Perempuan Simpanan, untuk masyarakat Indonesia sendiri kata perempuan simpanan adalah hal paling buruk dalam masyarakat. Nantinya akan melekat kata “Perempuan perusak hubungan orang”.

Jika seperti ini, sebenarnya untuk apa perempuan diciptakan? Yang pasti bukan hanya sekedar menyimpan mani lalu hamil dan melahirkan bukan? Ini keyakinan saya. Perempuan bukan hanya sebagai alat instrumentasi seksual demi berkembangbiaknya spesies yang bernama Phytecantropus Erectus.

Penulis : Nurdiani Latifah

0 Response to "Perempuan Dalam Cerita"

Post a Comment

PERHATIAN !
Terimakasih anda tidak berkomentar yang berunsur :

1. Sara/p**no
2. Pelecehan atau peninstaan terhadap ras dan agama
3. Link rusak
4. Spam

Bila ingin copy artikel mohon cantumkan link yang menghubungkan ke blog saya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...